​DPRD DKI & Jateng Bahas Lingkungan Hidup
BAHAS LINGKUNGAN. Komisi D DPRD Jateng saat membahas isu lingkungan bersama DPRD DKI Jakarta di Ruang Rapim Gedung Berlian, Kota Semarang, Senin (31/1/2019). (foto azam hanif adim)

GEDUNG BERLIAN - Lingkungan hidup menjadi topik hangat dalam perbincangan Komisi D DPRD Jateng dan Komisi D DPRD DKI Jakarta. Pada kesempatan itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso menjelaskan bahwa pihaknya telah mendorong pemerintah desa untuk membuat peraturan desa (Perdes) tentang lingkungan.

"Perdes itu mencakup tentang pengelolaan sampah di lingkungan desa. Jadi, proses penyelamatan lingkungan sesuai dengan kearifan lokal. Bentuknya berbeda satu dengan yang lainnya," terangnya, saat menerima kunjungan Komisi D DPRD DKI Jakarta ke Gedung Berlian, Jalan Pahlawan Nomor 7 Kota Semarang, Kamis (31/1/2019).

Ia juga mengungkapkan perdes menjadi terobosan yang didorong untuk menumbuhkan kesadaran dari masyarakat tentang pengelolaan sampah. Data yang dimilikinya menyebutkan, di Provinsi Jateng ada 24 kabupaten ‘Lampu Merah’ tentang pengelolaan sampah dan 4 Kota yang membawa sampah keluar kota.

"Perdes lingkungan itu relatif efektif. Tidak sedikit Bank Sampah Mandiri muncul dari inisiatif masyarakat. Data dari 2016-2019, catatan pengurangan sampah hampir 20 persen." ujarnya.

Ia menambahkan DPRD Jateng mendorong adanya intervensi tempat pembuangan akhir (TPA) regional yang sudah ada dengan bantuan keuangan pemdes. Selain itu, pembuatan peraturan tentang air tanah sebagai langkah antisipasi penurunan muka tanah sebesar 12 cm setiap tahun dan sebanyak 8.500 hektare abrasi.

"Langkah antisipatif yang kami dorong dengan Perda Air Tanah adalah dengan Sumur Resapan Dalam diikuti dengan standar sterilisasi air. Kita masukkan air ke bawah tanah," jelasnya.

Mendengar hal itu, Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta Pandapotan Sinaga justru menanyakan perihal rencana Jateng membangun Giant Sea Wall. Hal itu mengingat Jakarta bermaksud membangun bendungan sepanjang lepas pantai untuk mengurangi rob yang kian tinggi.

Hadi menjawab Giant Sea Wall itu terinspirasi dari Amsterdam Belanda. Sistemnya nanti disatukan dengan Jalan sehingga akan ada jalan lingkar kota yang melintasi tengah laut.

"Saat ini masih kita kaji, sebagai salah satu usualan kepada pemerintah provinsi. Karena, sebagian besar daerah terdampak rob seperti Semarang dan Pekalongan juga butuh jalan alternatif Pantura," pungkasnya, didampingi Anggota Komisi D DPRD Jateng Muhammad Wasiman dan Muhammad Ngainirrichadl. (azam/ariel)