Kasus Gizi Buruk di Jateng Masih Tinggi
Karsono. (foto teguh prasetyo)

GEDUNG BERLIAN - Anggota Komisi E DPRD Jateng Karsono menyayangkan pada 2018 ini masih ditemukan kasus gizi buruk.  Belum lama ini, ditemukan 16 kasus gizi buruk pada balita di Kabupaten Purbalingga.

Data yang dimilikinya menyebutkan, kasus tersebut tersebar di 6 kecamatan yakni di Kecamatan Mrebet ada 6 kasus, Kecamatan Kemangkon, Pengadegan, dan Karangmoncol masing-masing 2 kasus. Sementara di Kecamatan Bukateja, Kejobong, Purbalingga dan Kalimanah masing-masing 1 kasus.

"Kasus gizi buruk yang terjadi di Kabupaten Purbalingga tentu membuat kita prihatin. Sebab, ternyata kasus gizi buruk masih terjadi di wilayah Indonesia, khususnya di Jateng," ujar anggota Fraksi PKS DPRD Jateng itu.

Untuk itu, ia meminta pemerintah untuk segera melakukan langkah cepat dan tepat guna mengatasi permasalahan tersebut. Bantuan makanan dan tim kesehatan perlu dikirm untuk menanggulangi agar kasus gizi buruk bisa tertangani dan tidak meluas.

Adanya kasus gizi buruk tersebut, menurut dia, merupakan bentuk kelalaian pemerintah saat memperhatikan kualitas sumber daya manusia yang ada di Jateng. Setidaknya, ada 2 penyebab munculnya kasus gizi buruk yakni masalah kesehatan dan kemiskinan yang belum juga bisa terselesaikan.

“Saat ini, pemerintah perlu kembali fokus pada pembangunan sumber daya manusia. Karena, dari sumber daya manusia yang berkualitaslah akan menunjang kemajuan bangsa Indonesia kedepan,” ungkapnya.

Berdasarkan grafik sisa kasus gizi buruk (menurut indeks berat badan/ tinggi badan (BB/ TB) per 30 September 2017, di Provinsi Jateng tercatat ada 980 kasus. Jumlah terbanyak ada di Kabupaten Brebes dengan 107 kasus, disusul Kabupaten Banyumas ada 70 kasus dan Kabupaten Tegal dengan 61 kasus.

“Kasus gizi buruk di Kabupaten Brebes menduduki posisi pertama di Jawa Tengah. Namun, gizi buruk yang dialami Warga Brebes bukan karena kurang makan, melainkan infeksi penyakit," jelasnya. (teguh/ariel)