Pemahaman Kebencanaan Perlu Dikenalkan pada Masyarakat
BERI PAPARAN. Sekretaris Komisi E Abdul Hamid memberikan paparan di Kantor BPBD Kabupaten Semarang.(Foto: Dewi Sekarsari)

UNGARAN – Pemahaman mengenai kebencanaan dan antisipasi sebelum bencana itu terjadi perlu dikenal oleh masyarakat guna meminimalisasi korban serta kerusakan akibat bencana. Hal itu disampaikan Sekretaris Komisi E Abdul Hamid selaku pimpinan rombongan Komisi saat mengunjungi Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Selasa (6/11/2018). Dalam kunjungan itu, Komisi E diterima Sekretaris BPBD  Nurwiyati. Dijelaskannya, saat ini BPBD mempunyai 18 personel terdiri dari 14 PNS dan sisanya sukarelawan.

"Ya kami selalu dibantu sukarelawan dan pemadam kebakaran (damkar) juga dalam bekerja," ujarnya.

Nurwiyati juga menambahkan di daerahnya ada beberapa wilayah yang rawan longsor, angin kencang dan kekeringan. Ada juga data kejadian terbesar adalah kebakaran. Untuk mengatasi masalah kekeringan, pihak BPBD sudah menyalurkan 308 tangki air bersih dari alokasi APBD, serta  108 tangki air dari pihak luar. Menanggapi hal itu, Abdul Hamid mengatakan antisipasi tetap harus dijalankan. Kerja sama proaktif masyarakat sangat dibutuhkan.

"Karena dinas terkait tidak dapat bekerja sendiri maka masyarakat juga perlu turun tangan,” ujarnya

Nurwiyati menambahkan, bahwa sudah ada alokasi dana untuk menambah satu unit mobil operasional. Di sisi lain BPBD Kabupaten Semarang juga mengadakan simulasi secara mandiri. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan bertepatan pada Hari Pengurangan Risiko Bencana tanggal 25 dan 26 april.

“Kami melakukan apel siaga, mengerahkan semua personel, sukarelawan, dinas terkait, diikuti oleh semua instansi pemerintah, rumah sakit, puskesmas dan pelaku usaha untuk mengikuti simulasi.” Imbuh Nurwiyati

Pihak komisi E juga sudah mengapresiasi kinerja BPBD Ungaran ini karena dari segi SDM serta sarana dan prasarana sudah memadai. Tinggal meningkatkan kinerja masing-masing personel untuk memaksimalkan kinerja yang optimal saat  bencana terjadi.(dewi/priyanto)