Pertumbuhan BKK Purwokerto Selatan Bagus
Asfirla Harisanto. (foto dok)

SEMARANG - Pertumbuhan BKK Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas selama 5 tahun terakhir pada level di atas 10% cukup menggembirakan Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto. Menurut anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jateng itu, kinerja BKK Purwokerto Selatan yang membaggakan itu perlu diteladani kalangan BKK milik Pemprov dan Pemkab/ kota lainnya. 

“Tidak hanya mengalami pertumbuhan yang signifikan, rasio kesehatannya juga menggembirakan. Mulai dari kecukupan modalnya (26,36%) hingga rentabilitasnya, yakni kemampuan mencetak laba (3,87%), semuanya sehat,” kata Legislator PDI Perjuangan itu di Semarang, Selasa (13/11/2018).

Ia dapat memahami kebijakan direksi yang hingga kini tidak pernah melakukan penghapus-bukuan kredit macet karena alasan filosofis bahwa BKK Purwokerto Selatan itu tetap menyiapkan tim khusus yang menanganinya dan bekerja setiap hari di luar jam kerja. “Namun saya wanti-wanti agar rasio NPL tetap dijaga dan diturunkan pada level yang sehat (5%) sesuai ketentuan,” ujarnya.

Menurut Eko Sutriyono, Dirut BKK Purwokerto Selatan, pertumbuhan rata-rata BKK Purwokerto Selatan selama periode 2013 hingga 2017 lalu itu mencapai belasan persen. Masing-masing Aset 16%; Kredit 13%; Dana Masyarakat 14%; Pendapatan 12% dan Laba 11%.

Banyaknya BKK pelat merah di Jateng yang kinerjanya kurang memadai, diakui Eko cukup memprihatinkan. Padahal, katanya, jika dikelola secara profesional dengan tetap memegang prinsip kehati-hatian, BKK juga bisa bertumbuh-kembang baik dan menghasilkan laba yang signifikan. Ia mencontohkan BKK yang dipimpinnya, per juni 2018 ini telah membukukan laba Rp 2,07 miliar.

“Selama lima tahun ini kami telah menyetor deviden kepada Pemprov Jateng total Rp 1,81 miliar, terakhir tahun lalu sebesar Rp 405,76 juta. Untuk Pemkab Banyumas total Rp 5,13 miliar, terakhir Rp 1,32 miliar (2017),” katanya bangga. (sunu/ariel)